Berita Politik

IndiHome Digital Home Experience
verified RMOL Dewan Pers

Anas Menginap di KPK, Ada Apa?

Hukum  SELASA, 10 JANUARI 2017 , 22:43:00 WIB | LAPORAN: JOHANNES NAINGGOLAN

Anas Menginap di KPK, Ada Apa?

Anas Urbaningrum/RM

RMOL. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa mantan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum terkait kasus dugaan korupsi dalam proyek KTP berbasis elektronik (E-KTP).
Sesampainya di gedung KPK, terpidana kasus suap proyek Hambalang dan Tindak Pidana Pencucian Uang itu mengenakan masker dan topi berwarna coklat. Namun dirinya memilih bungkam saat ditanya mengenai pemeriksaannya sebagai saksi untuk tersangka Sugiharto.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menjelaskan, agenda pemeriksaan terhadap Anas untuk dimintai keterangan sebagai kapasitasnya sebagai anggota DPR RI saat proyek e-KTP bergulir.

"(Anas) akan diperiksa dalam empat hari, untuk kebutuhan pemeriksaan dititipkan di Rutan Guntur selama empat hari. (Anas) diperiksa sebagai mantan anggota DPR saat itu menjadi ketua fraksi (Partai Demkrat)," ujar Febri di Kantornya, jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (10/1).

Sebelum Anas, penyidik juga memeriksa Ketua DPR RI Setya Novanto dan mantan Bendahara Partai Golkar Muhammad Nazaruddin sebagai saksi tersangka Sugiharto terkait kasus korupsi e-KTP.

"Untuk saksi Nazaruddin, tidak hadir karena sakit," ujar Febri.

Ketiga nama saksi ini acap kali disebut sebagai pihak yang berpengaruh dalam perencanaan proyek e-KTP. Ketiganya memiliki peran masing-masih dalam meloloskan proyek senilai Rp5,9 trilun itu di DPR.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin, melalui pengacaranya Elza Syarif pernah mengatakan bahwa proyek E-KTP, dikendalikan ketua fraksi Partai Golkar di DPR yaitu Setya Novanto, mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang dilaksanakan oleh Nazaruddin, staf dari PT Adhi Karya Adi Saptinus, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri dan Pejabat Pembuat Komitmen.

Dalam dokumen yang dibeberkan Elza, Novanto, Anas dan Nazaruddin mengatur, merekayasa dan pengendali proyek yang diduga telah di dompleng alias mark up hingga 49 persen atau sebesar Rp 2,558 triliun dari total proyek sebesar Rp5,9 trilun. Dari hasil mark up, tersebut dibagi tiga untuk Anas, Novanto dan Nazar hingga ke pada pihak-pihak yang ikut terlibat.

Untuk Anas, diduga menerima 1 juta dolar amerika pada April 2010. Nazar menerima 500 ribu dolar amerika pada Maret 2010. Penyerahaan uang tersebut diketahui oleh Novanto. [sam]


Komentar Pembaca
Bagikan Hadiah Ke Warga, Jokowi Lempar Langsung Dari Dalam Mobil
170 Negara Ikut Matikan Lampu Pada Earth Hour
Sepakati Ongkos Haji

Sepakati Ongkos Haji

, 25 MARET 2017 , 06:51:00

Pengerjaan Stadion Renang GBK

Pengerjaan Stadion Renang GBK

, 25 MARET 2017 , 13:50:00

Berbaur Dengan Yatim Piatu

Berbaur Dengan Yatim Piatu

, 25 MARET 2017 , 12:35:00