Rita Widyasari

Polda Metro Jaya Akan Selidiki Kematian Bayi Debora

Hukum  SENIN, 11 SEPTEMBER 2017 , 12:32:00 WIB | LAPORAN: BUNAIYA FAUZI ARUBONE

RMOL. Polda Metro Jaya akan menyelidiki kasus meninggalnya bayi perempuan Tiara Debora Simanjorang di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.
Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan Jayamarta menyampaikan bahwa penyelidikan tetap akan dilakukan meskipun mereka belum menerima laporan. Pasalnya, diduga sang bayi meninggal dunia karena tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai.

"Itu yang menjadi bahan bagi kami dalam proses penyelidikan," tegas Adi, Senin (11/9).

Minggu (3/9) lalu, bayi Debora sempat dibawa ke RS Mitra Keluarga oleh ayah dan ibunya, Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi karena menderita flu dan batuk selama sepekan.

Tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Mitra Keluarga, sekira pukul 03.40 WIB, petugas jaga, yakni dokter Iren memberikan pertolongan pertama. Bayi Debora dicek suhu tubuhnya, lalu diberikan penguapan untuk mengencerkan dahaknya.

Sambil dilakukan pemeriksaan, ayah Debora, Rudianto diminta mengurus administrasi pasien. Pukul 04.10 WIB, kedua orang tua Debora dipanggil dokter Iren. Hasil diagnosa dokter Iren menyatakan Debora harus segera dibawa ke ruang PICU (pediatric intensive careunit). Dokter Iren menyarankan segera mengurus ke bagian administrasi.

Sang ayah pun kembali ke ruang administrasi dengan membawa kartu BPJS. Namun setibanya di situ, salah seorang administrasi, Ifa mewajibkan kedua orangtua Debora untuk membayar Rp19,8 juta rupiah karena memang RS Mitra Keluarga Kalideres belum bekerja sama dengan BPJS.

Rudianto Simanjorang pun balik ke rumahnya untuk mengambil uang perawatan anaknya. Namun uang yang dimiliki hanya Rp 5 juta. Duit itu kemudian disetor ke bagian administrasi RS Mitra Keluaga dengan harapan agar anaknya segera dirawat di PICU.

"Ini mbak lima juta rupiah. Barusan saya tarik dari ATM. Mohonlah dimasukkan anakku di ruang PICU. Saya berjanji siang nanti akan mencari kekurangannya," pinta Rudianto sambil memelas.

Karena uang yang disetorkan masih kurang, seorang petugas bernama Tina menolak setelah menelpon atasannya.

"Maaf Pak, atasan saya tidak memberi izin anak Bapak dimasukkan ke PICU sebelum bapak menyelesaikan uang muka. Ini saya kembalikan uang lima jutanya", ujar petugas administrasi itu.

Sontak tangis pecah. Ayah ibu Debora hanya bisa menangis. Henny menangis sesunggukkan. "Tolonglah mbak. Anak saya kritis. Dia kedinginan. Perlu segera masuk PICU. Mohonlah mbak, mohon," ucap Rudianto mengiba sambil membungkukkan badannya dengan kedua tangan mengatup.

"Ini aturan rumah sakit Pak, silakan bayar uang muka sesuai daftar harga PICU," jawab petugas administrasi dingin.

Kedua orang tua Debora menjadi lunglai. Ke mana lagi harus mencari kekurangan uang? Waktu terus berpacu. Bayinya semakin sekarat. Wajahnya pucat. Nafasnya tersengal karena batuk dahak dan tubuhnya kedinginan.

Sang Ibu, Henny berusaha mengontak teman-temannya untuk meminta bantuan. Ia menelpon Iyoh, teman baiknya agar mengecek ke RS Koja. Sulit menelpon rumah sakit itu untuk bertanya ruang PICU.

Selang beberapa lama, Dokter Iren menemui kedua orang tua Debora. "Bagaimana Bu sudah diselesaikan di administrasi?" tanya dokter Iren.

"Uang kami tidak cukup Bu. Hanya lima juta. Kami mohon agar bisa dimasukkan di PICU nanti siangan kekurangannya akan kami penuhi," balas Bu Debora memelas.

Dokter Iren kemudian menyarankan surat rujukan agar dibawa ke rumah sakit yang ada kerja sama BPJS-nya. Kedua orang tua Debora hanya bisa pasrah. Mereka bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Debora harus dievakuasi ke rumah sakit yang ada BPJS-nya.

Pukul 06.00 WIB, kondisi Debora terus menurun. Ia masih di ruang IGD.  Henny mencoba menghubungi koleganya. Pukul 06.17 WIB, Henny mem-posting kegalauannya di akun fFacebook miliknya.

"URGENT PLEASE, TOLONG BANTU CARI RS  SEKITARAN JAKARTA BARAT YG ADA RUANG PICU YG KOSONG. PLEASE TELP KE 082168852971. PLEASE".


Beberapa temannya merespon. Seorang temannya di Tangerang mencoba membantu. RS Tangerang ada PICU. Bisa segera dibawa ke sana segera. Namun karena kejauhan dan kondisi bayi Debora kian kritis, orang tua Debora masih berusaha untuk mencari rumah sakit yang PICU-nya kosong di Jakarta.

Waktu terus berjalan. Bayi Debora terus berjuang bertahan hidup tanpa bantuan medis yang optimal. Ia dibiarkan kedinginan tanpa inkubator. Sementara kedua orang tuanya terus berusaha mencari rumah sakit yang punya ruang PICU.

Pukul 09.00 WIB, dokter Irfan menemui kedua orang tua Debora. Dokter pengganti Iren ini memberi penjelasan kondisi Debora yang kian kritis.

Pukul 09.39 WIB, Bu Henny menyodorkan ponsel ke dokter Irfan. Iyoh temannya berhasil menemui dokter di RS Koja. Debora akan dievakuasi secepatnya ke RS Koja. Dokter di Koja ingin mendengar pandangan dokter Irfan atas kondisi pasien. Kedua dokter itu berbicara melalui telepon Henny. Entah apa yang dipercakapkan mereka.

Pukul 10.00 WIB, perawat memanggil kedua orang tua Debora. Mereka mengabarkan kondisi Debora memburuk. Mereka memberikan tindakan CPR karena jantung bayi Debora berhenti. Nyawa Debora sudah tidak bisa diselamatkan. Sontak ibu Debora menjerit histeris.

"Adekkkk...adekkk...bangun dek...Inang..Inang..bangunnn. Jangan tinggalkan mamak nak...maafkan mamak Inang..mamak sedang berjuang membawamu ke PICU...inangg...," jerit pilu Bu Debora di samping tubuh kaku bayi Debora.[wid]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
100%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Zulhas: Jangan Semua Urusan Presiden!

Zulhas: Jangan Semua Urusan Presiden!

, 20 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Golkar Resmi Utus Nurul Arifin

Golkar Resmi Utus Nurul Arifin

, 20 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Optimalisasi Penerimaan Dana Bagi Hasil

Optimalisasi Penerimaan Dana Bagi Hasil

, 19 SEPTEMBER 2017 , 02:25:00

Pengungsi Kebakaran

Pengungsi Kebakaran

, 19 SEPTEMBER 2017 , 03:31:00

Pansus Akan Laporkan Hasil Kerja Ke Jokowi

Pansus Akan Laporkan Hasil Kerja Ke Jokowi

, 19 SEPTEMBER 2017 , 05:02:00