Verified

Hakim Kena OTT KPK, Reformasi Peradilan Masih Omong Kosong

Hukum  SELASA, 10 OKTOBER 2017 , 10:13:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hakim Kena OTT KPK, Reformasi Peradilan Masih Omong Kosong

Foto/Net

RMOL. Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap anggota DPR Aditya Anugrah Moha dan Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Sudiwardono me­nambah deretan wakil rakyat dan penegak hukum yang tersangkut korupsi. Kasus ini juga mem­buktikan bahwa reformasi di dunia peradilan belum efektif.
Pengamat hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, mengatakan refor­masi di lingkungan aparat penegak hukum khususnya dalam kekuasaan kehakiman, memang gagal total. Reformasi itu gagal karena belum menyasar hingga lingkup yang terkecil seperti staf-staf penunjang.

"Kegagalan reformasi itu terletak pada mental dan moralnya. Karena mentalnya yang kena, maka membuat budaya korup di lingkungan kekuasaan kehakiman sulit dihilangkan dan bahkan sudah mengakar secara sistemik," katanya di Jakarta.

Ditegaskan Fickar, reformasi di tubuh kekuasaan kehakiman hanya berhasil di level pem­buatan regulasi sebagai upaya untuk memperkuat sistem pen­gawasan.

Sementara itu, juru bicara Komisi Yudisial (KY) Farid Wajdi menyesalkan adanya oknum hakim yang kembali terjerat OTT KPK. Menurutnya, jika saja Mahkamah Agung (MA) tidak mengacuhkan atau meng­indahkan rekomendasi yang dikirimkan ke oleh KY, minimal hal-hal yang sangat memalukan ini bisa terhindari. "Sudah dari awal kami ingatkan. Sebagian besar rekomendasi KY tidak di­jalankan bahkan diacuhkan oleh MA dan peradilan tidak benar-benar mau berubah," ujarnya.

Farid mengaku tidak heran jika masih ada oknum-oknum hakim yang bermain mata den­gan pihak-pihak yang berperka­ra. Termasuk adanya indikasi suap dalam menangani sejumlah perkara di pengadilan.

"Kalau rekomendasi KY masih diindahkan, maka kejadian se­rupa akan terus terjadi, selama tidak ada perubahan. Makanya, saya tidak kaget ketika ada kabar hakim tertangkap tangan oleh KPK," sebutnya.

Lembaganya sudah berulang kali mengingatkan jika penga­wasan terhadap praktik-praktik tindak pidana korupsi di lem­baga peradilan akan semakin diketatkan. Pengawasan tidak hanya oleh KY dan badan pen­gawas MA, tapi juga oleh stake holder terkait.

"Berkali-kali juga kami kata­kan, pengawasan tidak akan per­nah tidur dan akan muncul dalam banyak bentuk. Tragedi ini hanya salah satu contoh," imbuhnya.

Sebelumnya, KPK menang­kap tangan anggota DPR Aditya Anugrah Moha yang mencoba menyuap Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Sudiwardono terkait dengan perkara banding yang sedang diajukan ibunya, Marlina Moha Siahaan.

Marlina merupakan Bupati Bolaang Mongondow Sulawesi Utara yang menjadi terdakwa korupsi tunjangan penghasi­lan aparatur pemerintah desa (TPAPD) tahun 2010 senilai Rp 1,25 miliar.

"Diduga pemberian uang untuk mempengaruhi putusan bandingdalam perkara tersebut agar pena­hanan terhadap terdakwa tidak di­lakukan," kata Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif.

Dari OTT tersebut, KPK mengamankan uang 64 ribu dolar Singapura. Sejumlah 53 ribu dolar Singapura diamankan dari Sudiwardono dan 11 ribu dolar Singapura ditemukan di mobil Aditya. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Oentoek Padoeka Jang Moelja

Oentoek Padoeka Jang Moelja

, 22 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

, 21 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00