Hanura

Jokowi Gigit KPK?

Sebut Pemberantasan Korupsi Belum Serius

 SELASA, 12 DESEMBER 2017 , 09:18:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jokowi Gigit KPK?

Foto/Net

RMOL. Masih adanya pejabat yang ditangkap KPK lantaran korupsi dikeluhkan Presiden Jokowi. Dia menyebut, pencegahan korupsi harus dilakukan lebih serius lagi. Jokowi gigit KPK?
Keluhan itu disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia dan Peresmian Pembukaan Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi Ke-12 serta Peluncuran Aplikasi e-LHKPN di Hotel Bidakara, kemarin.

Jokowi yang berbatik coklat hadir didampingi Ketua KPK Agus Rahardjo pukul 09.10 WIB. Acara itu juga dihadiri sejumlah menteri dan gubernur. Di antaranya Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Di awal sambutannya, Jokowi menyebut, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling aktif dalam hal penegakan hukum terkait kasus korupsi. Untuk tahun 2016-2017 saja, jumlah uang negara yang berhasil diselamatkan melalui penegakan hukum mencapai Rp 3,55 triliun.

Kemudian, ada belasan gubernur, puluhan bupati dan wali kota, dan sejumlah anggota Dewan yang ditangkap KPK.

"Sejak tahun 2004 sampai sekarang ada 12 gubernur yang ditangkap karena korupsi, 64 bupati dan wali kota juga ditangkap karena korupsi. Belum pejabat-pejabat, baik Gubernur BI, kalau tidak keliru 2," tutur Jokowi.

"DPR dan DPRD saya tidak hitung, dan mayoritas adalah kasus penyuapan," imbuhnya disambut tawa hadirin. Namun, Jokowi heran. Meski sudah ditangkapi dan dijatuhi hukuman, masih saja ditemukan pejabat-pejabat lain yang terus ditangkap karena melakukan kejahatan korupsi ini.

Ini menandakan, upaya-upaya pencegahan korupsi di Tanah Air masih dilakukan dengan kurang serius. "Tidak bisa disangkal lagi bahwa upaya pencegahan korupsi harus terus kita lakukan lebih serius. Tidak bisa ditunda lagi bahwa sistem pemerintahan, pelayanan, administrasi semua harus dibenahi," tuturnya.

Salah satu hal yang dilakukan pemerintah guna mencegah tindak penyelewengan anggaran ialah dengan melakukan deregulasi. Menurut Presiden, dengan semakin banyaknya regulasi, potensi untuk terjadinya korupsi juga akan semakin besar.

Setiap regulasi, dinilai Jokowi seperti sebuah pisau bermata dua. "Setiap aturan, izin, dan persyaratan mempunyai potensi untuk bisa menjadi objek transaksi dan korupsi," imbuh Jokowi.

Jokowi mengamati, birokrat cenderung untuk menerbitkan sebanyak mungkin aturan. Dari sekian banyak aturan itu, banyak ditemukan aturan-aturan yang tidak jelas dan menggunakan bahasa abu-abu. "Artinya regulasi, aturan, perizinan, dan persyaratan itu sangat potensial menjadi alat pemerasan, alat untuk transaksi," tegasnya lagi.

Eks Gubernur Jakarta ini tak ingin hal itu terus terjadi. Ia pun meminta jajarannya dan para kepala daerah untuk memangkas segala regulasi yang akhirnya justru membebani masyarakat. "Semua kementerian, gubernur, bupati, dan wali kota pangkas itu yang namanya regulasi yang membebani baik masyarakat dan dunia usaha serta menjadikan negara ini tidak efisien," serunya. Presiden bahkan menggelar lomba. Bagi yang bisa memangkas peraturan-peraturan, akan diberi hadiah.

Presiden pun memastikan, pemerintah tak akan pernah berhenti untuk memberantas dan memperkecil peluang terjadinya korupsi di pemerintahan. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bahu-membahu dalam memberantas korupsi di Indonesia.

"Saya mengajak semua pihak untuk selalu bekerja sama dalam pemberantasan korupsi. Perbaiki sistem untuk mencegah korupsi, tingkatkan produktivitas bangsa melalui sistem pelayanan dan pemerintahan yang efisien, lanjutkan terus penegakan hukum yang seadil-adilnya, dan ajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan antikorupsi," tandasnya.

Dalam acara itu, Presiden Jokowi diberi penghargaan oleh KPK sebagai "Pelapor Gratifikasi dengan Nilai Terbesar yang Dijadikan Milik Negara."

Ketua KPK Agus Rahardjo memberikan plakat penghargaan itu kepada Jokowi. Jokowi pun bingung. "Loh, ini apa, pak?" tanyanya. Agus pun menjelaskan, plakat itu adalah penghargaan lantaran Jokowi rajin melaporkan segala hadiah yang diterima. Ditotal, nilai-nilai hadiah itu sangat besar. "Tak hanya terbesar, juga terpatuh Pak," ujar Agus disambut tepuk tangan para hadirin.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menilai, pernyataan Presiden Jokowi itu menyiratkan KPK belum serius melakukan pencegahan korupsi. "Itu menggigit, tapi sekaligus melecut KPK supaya lebih hebat lagi," katanya, semalam.

Boyamin sendiri menyebut, upaya pencegahan yang selama ini dilakukan KPK memang belum serius. Buktinya, masih banyak pejabat dan kepala daerah yang ditangkap komisi antirasuah itu.

"Jadi harus lebih serius. Tak hanya pencegahan, tapi juga dua sisi, pencegahan dan pemberantasan. KPK harus mampu mendorong transparansi anggaran dan sistem pertanggungjawaban yang mudah mendeteksi penyimpangan," tandasnya.

Terpisah, Jubir Kepresidenan Johan Budi SP menyebut, Presiden Jokowi tidak menyindir KPK dalam sambutan itu. "Maksudnya, upaya pencegahan korupsi seperti misalnya perbaikan sistem harus lebih ditingkatkan, tidak hanya oleh KPK tetapi juga semua stakeholder pemberantasan korupsi," ujar Johan kepada Rakyat Merdeka, semalam. ***


Komentar Pembaca
Elektabilitas Rizal Ramli Susul Prabowo Dan Jokowi
Korut Hancurkan Lokasi Uji Coba Nuklirnya
RR Bertemu Anwar Ibrahim

RR Bertemu Anwar Ibrahim

, 21 MEI 2018 , 00:45:00

Mencoblos Di Kedubes Venezuela

Mencoblos Di Kedubes Venezuela

, 20 MEI 2018 , 10:20:00

Usai Memberikan Suara

Usai Memberikan Suara

, 21 MEI 2018 , 01:42:00