Hanura

Pengamat: Arief Hidayat Dituntut Mundur, Ada Kepentingan Subjektif

Dalangnya Orang Dalam MK?

 SELASA, 13 FEBRUARI 2018 , 16:11:00 WIB | LAPORAN: YANTI MARBUN

Pengamat: Arief Hidayat Dituntut Mundur, Ada Kepentingan Subjektif

Arief Hidayat/net

RMOL. Ada kepentingan subyektif di belakang upaya aktor tertentu melontarkan desakan agar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Arief Hidayat, mundur dari jabatan.
"Apa di balik upaya permintaan mundur Ketua MK? Menurut saya, tidak lepas dari kepentingan yang sangat subyektif dari 'pemain' tersebut," kata Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner, Emrus Sihombing, kepada wartawan, Selasa, (13/2).

Menurut dia, sangat berlebihan bila alasan meminta Arief Hidayat mundur hanya karena pelanggaran ringan etika. (Baca: Guru Besar Dan Profesor Mendesak Arief Hidayat Mundur Dari Ketua MK)

Dia juga mengungkapkan, sosok yang mendorong Arief mundur merupakan birokrat di MK.

"Karena itu, latar belakang historis hubungan kerja di MK menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepas begitu saja untuk memahami perilaku komunikasi yang meminta Ketua MK mundur. Boleh jadi sosok tersebut selama ini tidak produktif sebagai pekerja di instansi tersebut," tambahnya.

Tak hanya itu, Emrus juga menilai latar belakang psikologi dan sosiologi perlu dibongkar secara holistik, karena sosok tersebut acap melempar tuntutan agar Ketua MK mundur. Orang tersebut juga seolah memanfaatkan berbagai forum dan ruang publik mewacanakan desakannya. (Baca juga: Arief Hidayat Wajib Mundur Agar MK Tak Makin Cemar)

"Yang jelas, tidak ada tindakan komunikasi. Pasti orang tersebut punya agenda tertentu. Dengan mendorong-dorong mundur Ketua MK, sama saja mereproduksi pesan seolah me-reminder bahwa Ketua MK melakukan pelanggaran etik. Ini suatu tindakan yang sangat-sangat tidak produktif dan sangat disayangkan bis terjadi demikian," tuturnya.

Kata dia, mereproduksi pesan berkali-kali merupakan perilaku tindakan komunikasi non-verbal yang sarat dengan kepentingan. Tujuannya, memposisikan Ketua MK tidak nyaman dan agar citra Ketua MK tergerus.

"Bukankah tujuan tersebut sebagai perilaku komunikasi yang juga tidak etis? Untuk itu, saya menyarankan, sebaiknya orang tersebut menghentikan upaya yang sangat tidak produktif tersebut dan jauh lebih baik merintis dan menjalin komunikasi silahturahmi dengan Ketua MK," tutupnya. [ald]

Komentar Pembaca
Jokowi Lagi, Jokowi Lagi

Jokowi Lagi, Jokowi Lagi

, 23 FEBRUARI 2018 , 13:00:00

KPK Berani Periksa Puan?

KPK Berani Periksa Puan?

, 23 FEBRUARI 2018 , 09:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

Jokowi Ke Mana?

Jokowi Ke Mana?

, 22 FEBRUARI 2018 , 13:11:00